Pilkada DKI dan alasan aku tidak akan memilih

Seperti halnya Pil KB, aku sebenernya kurang tertarik dan menekuni Pilkada. Namun, karena hajatan publik ini menyangkut kota dimana aku mengais rezeki, berasap-asap dan belajar jadi pembalap amartir musiman,maka aku putuskan untuk mempublish tulisan ini.
Well,as all you know, i’m not politician,neither musician also, oleh karena itu tulisan ini akan short and sweet.

Sebelum mengklasifikasikan para calon Gubernur DKI, aku sendiri punya program yg mungkin sangat pas untuk dijalankan di Jakarta. Dengan asumsi bahwa mengurus DKI adalah seperti main game Sims City dimana masalah non teknis diangggap nihil ,berikut kira2 program yang selama ini menggelinjang di kepalaku setiap nunggu lampu ijo nyala di sela2 kemacetan Jakarta :
  1. Transmigrasikan para tunawisma beserta anak2 (terlantar) jalanan ke Papua. Dilengkapi dengan pendidikan dan sarana usaha kecil/pertanian.
  2. Hijaukan jakarta.Reboisasi.Sangat tidak nyaman rasanya kalau saat macet itu campur panas.Walau macet campur hujan juga sama tidak nyamannya. Kalau perlu,ganti tiang traffic light dengan pohon.
  3. Naikkan pajak pengguna kendaraan pribadi 2 kali lipat Tentu saja kelipatan pajak akan sangat bergantung dengan jenis/kelas kendaraan pribadi.
  4. Gunakan hasil pajak no.3 untuk membangun trotoar yang representatif bagi pejalan kaki dan sepeda kayuh. Setidaknya selebar 2 jalur penjalan kaki, 2 jalur sepeda kayuh dan 1 jalur hewan peliharaan (jalur terpagar). Secara personal aku tidak nyaman berjalan kaki diantara tatapan anjing herder yg sedang birahi.
  5. Batasi penggunaan kendaraan pribadi untuk masuk DKI.Misal hari senin, kendaraan bernomer plat akhir ganjil,selasa untuk nomer genap, rabu untuk nomer ilegal, kamis untuk nomer ’nembak’, Jumat untuk nomer taubat. Sabtu-minggu bebas aturan. Ganti 3in1 dengan 5in1. Kenakan denda tinggi bagi pelanggarnya,sampai pengguna kendaraan pribadi berpikir 2 kali untuk menggunakannya,hingga rasanya seperti diberi 2 pilihan: untuk nelen biji salak atau biji salak dimasukkan lewat anus.
  6. Gunakan pajak no.3 dan hasil denda no.5 untuk membangun sarana transportasi publik massal yang memadai,aman dan nyaman. Imajinasi : subway-train dari bogor ke Ancol PP dan dari Cikarang-Banten PP. Monorail dari mmm.. 7(kalu tidak salah) penjuru DKI dimana stasiunnya ada di semua tempat yang sekarang sudah ada terminal bus antar kotanya. Busway dengan trayek koridor yang sudah direncanakan dan armada sebanyak 50 setiap koridor atau setidaknya jeda kedatangan bus transjakarta setiap 5 menit sekali. Imajinasi alternatif : speed boat massal berjalan di kanal barat dan timur ;angkutan balon udara massal (yes.. this is wild imagination)
  7. Gerakan pengaturan tata kota untuk mengatasi banjir dan merapikan (dan tetap menampung) pedagang kaki lima. Untuk yang ini,capek dah kasih contoh realnya. ..
  8. Batasi urbanisasi dan beri fasilitas rumah murah dan beradab bagi kaum urban ( ini permitaan personal sih..  )
(note: kendaraan pribadi adalah kendaraan pribadi bermotor, tidak termasuk sepeda kayuh, kuda poni dan onta)

Naah,setelah program liar yang aku beberkan diatas, selanjutnya, mencermati para calon gubernur DKI beserta pasangan(wakilnya)-setidaknya yang aku lihat di televisi)- aku punya pandangan untuk mengklasifikasikan mereka kedalam beberapa (berapa ya enaknya??) kategori.
  1. Kategori pertama adalah yang mencalonkan diri (dicalonkan) karena -lebih pada- alasan ke-betawian. Sebagai anak betawi dan ikon betawi,setidaknya calon2 ini punya tanggung jawab (baik secara moril maupun kebiasaan saja) untuk melanjutkan apa yg sudah dia raih. Disamping karena komunitas betawi yg solid, dukungan imej as betawian bakal membawa calon2 ini semakin menggebu untuk meneruskan cita pejuang2 betawi sebelumnya, dan mungkin kebiasaan mereka.
  2. Kategori kedua adalah calon2 yg memang true politician. Saat mereka punya kesempatan, dikala mereka sudah/sedang merasakan posisi yg tidak nyaman lagi bagi kondisi mental politis mereka. They’ll scream : Gub DKI, heck yeah! Seakan gatel karena jamuran dan kringet buntet, menjadi gubernur DKI adalah posisi yang sangat mak nyuss untuk menggenjot karir politis (bagi yg belum berumur-you’ll never know pada usia berapa seorang politisi mengalami puber?!) atau menikmati hari tua,menutup aktualisasi diri sebagai politisi yg berkelas, membuktikan diri belum uzdur dan .. masih belum ketemu hal2 lainnya.
  3. Yang terakhir yang bisa kukelompokkan adalah calon2 yang memang punya tanggungan kepercayaan dari masyarakat yg mulai dihinggapi penyakit kronis (baik mental maupun fisik) karena kelamaan hidup/terpaksa hidup di jakarta di era ini. Calon2 ini adalah orang2 yang rela untuk bermasalah hanya karena ngurusin orang2 yg bermasalah. Rela jamuran karena masyarakat jamuran, tetapi nggak yakin juga sih klo mereka mau ikut macet ketika ngurusin masyarakat yg macet.
Sekiranya sekian dulu deh klasifikasinya, above all, this is politics,dan selalu ada hal yang membuat kita tidak nyaman berurusan dengan politik.

last question remained, calon manakan yg bakal kupilih nanti... ?????????????/
Nope, Aku tidak akan memilih satupun. Itu karena 2 alasan: 1. karena aku tinggal di sawangan,Depok (Jawa barat,bukan DKI) dan 2. aku tidak punya KTP DKI.
Well, semoga dengan paparan ini kamu semakin jelas untuk memilih..... lewat mana biji salak akan masuk tubuhmu.

Labels: ,


About this entry